he

March 21st, 2007 by ngedumel

hehehehe cuman pengen ngetes blog nya friendster
lama gak nulis,..

mau nulis apa ya,..
mau curhat, hahaha gw curhat hapah yah, oh gw mau minta maaf, sama semua orang deh, kalo gw sering underestimate elu pada, gw sering bohong, heeh maaf banget yah, saia akan mencuba untuklah berubahlah *begitulah adanyalah semoga kesampaianlah dan seterusnyalah (lah ini menganggu banget)lah

oh ini tulisan dari blog jadul ituh, gw pengen ngelanjutin ceritanya,.. gw tulis disini ajah dicoba dibuat bersambung,

warning : cerita ini fiksi, ngarang, ngibul jikalo ada persamaan dengan sampeyan, elu, anda berarti lagi sial, karena ini cerita sial. dan bila ada persamaan dengan cerita lain, atau dibuku atau di stensilan, ya stensilan memang tobh *leh*, engga semoga tidak ada tulisan yang sama, kalo ada maaf ya boleh dikasih tau dimana. demikian. btw lagi karena cerita ini ditulis jaman behaula bin judal jadul, ya gitu deh.

judul nya ga ada. tadinya mau dikasih judul ytse jam, nyontoh judul lagu dream theater tapi kok terlalu keren untuk cerita segaring ini.

cerita.

preambule.
Pangeran itu datang dalam kehidupanku dengan selembar rasa, segenggam bunga dan seikat hati. Bajingan itu datang dengan sumpah serapah dan ratusan kata bodoh tentang keberanian dan kekuatan.

Pangeran membimbingku tata krama dan sopan santun, meleburku dalam kekuasaan dan kasih sayang, tentang cinta, tentang puisi, tentang keindahan, memberiku rasa nyaman dan arahan, memberikan pengetahuan.

Tapi bajingan itu telah mengikatku dengan kejujuran, dan kepandaian, dia menghajarku dengan masa depan dan pengertian. mendidikku tentang keuletan dan arti kerja keras. Terkadang kelicikan, dan dia menganjurkan semuanya tanpa batasan.

Teringatku saat pangeran mendekapku, seperti musim semi didataran tinggi, bersahaja tanpa cela, menghantarkan kasih sayang dengan santun, seperti remah roti, berbulir tapi mengenyangkan. pangeran tahu tentang saat, pangeran mengenalkanku pada dunianya dan membenamkanku dalam lebar hatinya. Gairahnya terangkum dengan nada dan gundahnya terpendam rata, kadang bercerita tapi tak teraba.

Bajingan membelaiku dengan gairah, gerakannya tak terarah tapi membuatku berserah, membuatku menjerit pada langit dan selalu membawaku dalam asa, cintanya hangat terkadang panas, tak terbelenggu dan menggoda, luruhku dalam pesonanya. Kekurangajaranya adalah normalnya, gembira dalam keseharian dan pengacau dalam kumpulan, selalu menggerakan adrenalinku dengan cepat, dan membawaku keangkasa mencari tempat.

Sekon berbiak seperti virus, dan hari ini aku sampai pada persimpangan. Tapi tidak seperti ini, harusnya seperti rel kereta api, berjalan lurus tak terpisah bisiku pada tuhan, tapi beliau berteriak dan menggeram aku serakah katanya, tapi kutak sanggup, haruskah kuketukan palu dan menghiba menangis terisak melepas, sanggupkah kubuang bagian, aku tidak, tapi mereka hendak, apakah itu ego, kupikir bukan, karena memang butuh pernyataan…

Sanggupkah kulepas kenangan ? adakah yg mau beri pertimbangan? kiri kanan? karena lurus adalah tertahan. dan diam adalah kebodohan. sedangkan aku tak sanggup melepaskan, sungguh aku tak sanggup,

Chapter 01
// IM OUTTA LOVE
“Parade Cinta Dialektika Satu Bahasa”

Namaku Izzara, jangan kau tanyakan kepanjanganya. Dan jangan tanya kenapa aku tidak mau ditanya. Kamu mau namaku? Itu namaku, kamu mau tahu aku? Mari kuceritakan. Tidak usah basa-basi, aku benci.

Apa???
Kamu mau tahu kenapa aku menulis tulisan bodoh mengenai pangeran dan bajingan? Pertanyaan bagus. Kurasa aku bisa menyukaimu, secepat aku menyukai Mak Jum, tukang jual jamu gendong yang hanya menanyakan sakit apa, tiga menit tanpa bahasa, dan voila kamu terpaksa menelan campuran akar, daun dan tetek bengek yang bahkan tak ingin kau tahu prosesnya. Murni bisnis. Bisnis murni? Bisni Murnis?

Aku jatuh cinta

Yap, kata orang aku jatuh cinta….

LAGI…
Tapi aku tak tahu, yang kurasa hanya debar, dengan level yang berbeda tentunya. Dengan cara yang berbeda pula.

Jadi ?
Wow, pertanyaanmu semakin membuatku menyukaimu, daripada menanyakan siapa, seperti apa, bagaimana, kamu lebih memilih kata “JADI”. Jadi …
Jadi…?

***

masih bersambung lagi,..
ya iya, karena cerita garing itu susah dikarang hahahahaahahah
*ditendang sapi